Workshop Pedoman Pengatalogan Deskriptif Berbasis RDA di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah 25 April 2018

Dunia perpustakaan memasuki era baru seiring diperkenalkannya RDA menjadi standar baru pengatalogan menggantikan AACR2. Implementasi RDA bertujuan, pertama, sebagai kerangka kerja yang lebih fleksiblel untuk mendeskripsikan semua jenis materi analog dan digital. Kedua, menyajikan data yang mampu beradaptasi dengan kemunculan struktur database yang baru. Dan yang ketiga, menampilkan data yang kompatibel dengan cantuman bibliografi yang telah ada dalam katalog perpustakaan online. Sebagai peraturan baru maka Perpustakaan Nasional berkewajiban mensosialisasikan RDA pada perpustakaan – perpustakaan binaan yang ada di Indonesia. Pada tanggal 25 April 2019 Perpustakaan nasional mengadaakan workshop Pedoman Pengatalogan Deskriptif Berbasis RDA di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah.

  • Sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah Bp. Ardiansyah L., S,Pd, M.Si, menyampaikan :
  • Ucapan terimakasih kepada Perpustakaan Nasional dalam hal ini diwakili oleh Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka beserta rombongan. Selamat datang di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah.
  • Ucapan permohonan maaf kepada para peserta workshop karena banyak kegiatan yang bersamaan dan diguyur hujan jadi pelaksaaan wakshop waktunya agak bergeser dari jadwal.
  • Sesuai UU No. 43 tahun 2007 ps 3, ps 4 dan ps 12 (1) menyatakan :

Ps 3 : Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Ps 4 : Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan bangsa.

Ps 12 (1) : Koleksi Perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Artinya dalam hal ini pengelolaan perpustakaan harus dilakukan secara profesional, agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

  • Perpustakaan harus mampu mengembangkan dari sesuai dengan perkembangan TI saat ini. Banyaknya perkembangan bahan perpustakaan maka dipilih RDA sebagai alat penelusuran informasi. Karena perpustakaan sudah semestinya menyediakan informasi.
  • Dari era globalisasi yang semakin mengglobal. Ini saya menyampaikan pendapat sendiri, di era ini dari generasi milenial maupun jaman kolonial seperti kita ini, pada saat ada bencana yang paling meresahkan pada saat signal smartfon terputus. Sehingga perkembangan digital kita harus paham, dalam hal ini dibutuhkan SDDM yang handal. Untuk itu workshop ini menjadi sangat penting bagi pustakawan di Sulawesi Tenggara. Maka kami menyampaikan terimakasih kepada Perpustakaan Nasional. Kami menghimbau kepada para peserta mengikuti dengan baik, saya yakin akan menambah skill para pustakawan. Saya ingin semua peserta mampu mengoperasikan aplikasi/sistem ini.
  • Pada waktu itu, pada waktu saya masih kuliah, kelompok yang semangat datang ke Perpustakaan karena mereka membutuhkan jurnal dan mengerjakan tugas kuliah, bukan karena ada koleksi-koleksi/pelayanan/apikasi yang menarik. Saya harap padasaat ini jika ada orang yang mencari informasi misalnya quick count, dll. pada saat ditelusur dapat ditemukan, sehingga orang datang ke perpustakaan tidak dengan cara primitif.
  • Saya yakin dan optimis para pustakawan dapat menyerap ilmunya jika mengikuti workshop dengan baik.
  • Tugas pokok mencerdaskan kehidupan bangsa adalah perpustakaan yang digerakkan oleh para pustakawan, yang sudah terbantu dengan adanya perkembangan digital.
  •  Ukuran yang riil terkait dengan penataan terbaik perpustakaan, penyediaan referen yang cukup dapat dilihat dari peningkatan pengunjung dari hari ke hari, bulan ke bulan, dst.
  • Materi Kebijakan Penerapan RDA di Perpustakaan, dalam hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, hal – hal yang disampaikan antara lain :
  • Ucapan terimakasih kepada kepada para udangan hadir pada acara ini dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah yang telah membantu dalam mempersipkan pelaksanaan Workshop Pedoman Pengatalogan Deskriptif Berbasis RDA
  • Kebijakan penerapan RDA di Indonesia tertuang dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Repulik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Kebijakan Penerapan RDA di Indonesia. Kebijakan ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Maret 2016 dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 2016. 
  • Perka nomor 2 tahuh 2016 tersebut dilengkapi dengan 2 lampiran. Lampiran 1 berisi tentang penjelasan Kebijakan penerapan RDA. Lampiran 2 berisi tentang Pedoman Resource Description and Access. Peraturan ini akan dilakukan secara bertahap dan secara aplikasi sudah mulai diterapkan pada tahun 2017.
  • Tujuan kebijakan penerapan RDA :

(1) Adanya kesamaan persepsi dalam pengolahan bahan perpustakaan;

(2) memberikan arah program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam penerapan

      RDA di Indonesia ;

(3) Sebagai sarana mempermudah dalam melakukan kerjasama pengatalogan antar

       perpustakaan.

Arah kebijakan penerapan RDA di Indonesia dimaksudkan untuk memberikan petunjuk dan dasar dalam penerapan RDA sebagai peraturan pengatalogan bahan perpustakaan di Indonesia, sehingga terjadi keseragaman dan kesamaan persepsi dalam pengatalogan bahan perpustakaan.

  • Tujuan implementasi RDA :
  1. Agar dapat mendiskripsikan semua bahan perpustakaan
  2. Menyajikan data yang mampu beradaptasi dengan kemunculan struktur data baru
  3. Menampilkan data yang kompetabel dengan cantuman bibliografi yang ada
  • Kelebihan RDA antara lain :
  1. Struktur & penekanan baru pada isi koleksi
  2. Didesain sesuai dengan perkembangan dunia digital. Fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perkembangan masa depan
  3. RDA kompetabel dengan berbagai skema metadata
  4. RDA berorientasi pada pemustaka
  • Pengorganisasian Informasi Bahan Perpustakaan dalam hal ini disampaikan oleh Dra. Mediawati, hal – hal yang disampaikan antara lain :
  • Pengertian Pengatalogan merupakan proses penyusunan data bibliografi ke dalam sebuah katalog perpustakaan baik katalog kartu maupun online, dengan tujuan membantu pemustaka memperoleh informasi yang cepat dan tepat melalui pengarang, judul dan subjek.
  • Pengatalogan ada 2 yaitu :
  1. Pengatalogan deskriptif

Bedasar pada fisik bahan pustaka :  judul, pengarang, tempat terbit, jumlah halaman, dll.

Kegiatannya berupa : membuat deskripsi bibliografi, menentukan tajuk entri utama  dan  tambahan

  1. Pengatalogan subjek

Berdasar pada isi bahan pustaka (subyek atau topik yang dibahas)

Kegiatannya berupa : melakukan analisis subjek dan menentukan notasi klasifikasi

  • Sumber informasi dalam mengolah bahan perpustakaan : halaman judul, halaman verso (halaman balik buku), kata pengantar, daftar isi, halaman belakang (kolofon), jaket buku, informasi lainmengenai buku tsb bisa didapat dari katalog penerbit, brosur, dll.
  • Tujuan katalog  sebagai wakil dokumen yang dimiliki perpustakaan (koleksi yang dimiliki),  alat penelusuran (temu kembali   informasi), membantu dalam pemilihan bahan   perpustakaan
  • Bentuk katalog  : katalog buku = katalog tercetak ; katalog kartu = bentuk kartu mempunyai ukuran 7,5 X   12,5 ; Katalog komputer terpasang =  online public access catalogue (OPAC)
  • Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan sejumlah objek secara sistematis, ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama.
  • Kegiatan klasifikasi ada 2 jenis :
  1. Klasifikasi Artifisial : mengklasifikasi bahan perpustakaan berdasarkan sifat-sifat yang kebetulan ada pada bahan tsb. Misalnya berdasarkan : warna kulit buku, tinggi buku, nama pengarang, dll.
  2. Klasifikasi Fundamental : mengklasifikasi bahan   perpustakaan berdasarkan ciri-ciri yang melekat misalnya berdasarkan subjek atau isi bahan pustaka tersebut 
  • Tujuan klasifikasi : menentukan lokasi bahan perpustakaan di dalam jajaran koleksi Perpustakaan sehingga memudahkan temu kembali informasi, mengumpulkan semua bahan perpustakaan yang memiliki subyek yang sama dalam satu jajaran koleksi, memudahkan dalam penempatan buku baru
  • Struktur/bagian DDC : Bagan  (Schedules) = klas 000-900, Indeks relatif (Relative Indexs), Tabel-tabel (Tables) =  6 tabel pembantu (1) subdivisi standar (2) wilayah (3) subdivisi sastra (4) subdivisi bahasa (5) ras (6) bahasa
  • Prinsip dasar DDC :
    1. DDC membagi ilmu pengetahuan dalam 10 kelas utama. Kemudian setiap kelas utama dibagi menjadi 10 divisi, dan setiap divisi dibagi menjadi 10 seksi
    2. Oleh karena pembagiannya dibuat menjadi kelipatan 10, maka DDC disebut sistem klasifikasi persepuluhan
  • Prinsip dasar DDC (Kelas Utama) :

000  Karya umum                                500  Ilmu murni

100  Filsafat                                        600  Ilmu-Ilmu Terapan/Teknologi

200  Agama                                         700  Kesenian, Olah-raga

300  Ilmu-ilmu Sosial                          800  Kesusastraan

400  Bahasa                                         900  Geografi & Sejarah

  • Kegiatan Pasca Pengkatalogan :
  1. Cetak kartu Katalog
  2. Kantong Buku dan Kartu Buku
  3. Nomor Panggil Buku
  4. Shelving koleksi
  • Pengantar Pengatalogan deskriptif berbasis RDA, disampaikan oleh Yus Yusuf Rangga W., S.S., antara lain :
  • RDA merupakan standar pengatalogan deskriptif  baru yang akan menggantikan Anglo-American Cataloguing Rules, 2nd edition (AACR2). Mulai dikembangkan pada tahun 2010
  • Pengembangan RDA : terbit dalam dua versi cetak dan sumber elektronik, merupakan standar pengatalogan semua jenis bahan perpustakaan terutama untuk sumber-sumber digital, metadata : MARC 21
  • Konsep FRBR
  • Perubahan dalam Pengatalogan RDA
  1. RDA tidak lagi mengatur tentang penandaan bahan umum dikenal dengan General Material Designation (GMD). Pengaturan akan digantikan dalam daerah deskripsi fisik bahan perpustakaan dan di kembangkan berdasarkan content, carrier dan media type.
  2. Penulisan singkatan. tidak lagi menggunakan singkatan baik pada daerah penerbitan maupun daerah deskripsi fisik
  3. Pengatur pernyataan tanggung jawab untuk karya dengan pengarang lebih dari 3 orang tidak lagi ditulis hanya pada nama pengarang pertama. Namun semua pengarang dituliskan dengan catatan entri utama tetap pada pengarang pertama
  • Praktek RDA:

Peserta Workshop Pedoman Pengatalogan Deskriptif Berbasis RDA melaksanakan praktek mengolah bahan perpustakaan yang telah disediakan oleh panitia dengan menggunakan Laptop. Pelaksanaan praktek  Pengatalogan deskriptif berbasis RDA dibimbing oleh narasumber/Tim RDA Perpustakaan Nasional. Dalam pelaksanan praktek peserta dipersilahkan untuk bertanya secara langsung apabila ada hal-hal yang belum jelas pada saat pengolah bahan perpustakaan atau menginput data.

  • Pertanyaan diajukan oleh peserta workshop :
  1. Mengapa RDA tidak disosialisaikan secara sekesluruhan se Indonesia tetapi dilakukan secara bertahap?
  2. Untuk penulisan nama pengarang di ruas 100 penulisannya dibalik atau tidak dibalik?
  3. Kalau buku merupakan karya saduran tidak ada nama pengarang utamanya tetapi hanya nama penyadur, masuk kemana?
  4. Bagaimana cara penulisan judul seragam, apakah diketik dirangkaikan seperti anak judul?
  5. Untuk penulisan penerbit kalau ada PT harus ditulis?
  6. Bagaimana cara mengolah e-book menggunakan inlislite?
  • Jawaban Narasumber :
  1. RDA tidak disosialisasikan secara serentak dalam 1 tahun karena ada keterbatasan anggaran. Hal ini juga diakomodir oleh Pusdiklat dengan membuat kurikulum dan pelaksanaan diklat RDA namun hanya menampung 30 orang. Sehingga workshop jalan dan diklat juga jalan. Dilaksanakan juga sosialisasi melalui perguruan tinggi.
  2. Untuk penulisan nama pengarang Indonesia tidak dibalik. Untuk nama marga/gelar kebangsawanan/nama asing/nama yang menggunakan singkatan didepan, penulisannya dibalik.
  3. Untuk nama penyadur masuk di ruas 100
  4. Penulisan judul seragam menggunakan tanda = , untuk anak judul menggunakan :
  5. Untuk penulisan penerbit ditulis sesuai yang ada di sumber informasi utama. Kalau PT di sumber informasi utama dicantumkan maka di daerah peneribitan juga harus ditulis.
  6. Selama ini koleksi e-book di Perpustakaan Nasional belum diolah.
  • Penutup
  • Dalam mengolah bahan perpustakaan sesulit apapun harus tetap dikerjakan. Seperti halnya dengan juru masak/rumah makan, harus dapat menyajikan makanan yang enak dan cepat disajikan. Demikian juga di perpustakaanharus saling sinergi antara dalam melaksanakan seleksi bahan perpustakaan, pengolahan dan layanan sehingga koleksi/informasi mudah ditemukan.
  • Dengan mengikuti workshop ini mudah-mudahan para peserta dapat mengaplikasikan di tempat tugas masing-masing.
  • Permohonan maaf dan terimakasih pada peserta workshop yang telah dengan antusias dan tekun mengikuti acara ini.

 

 

 

Palu, 25 April 2018 

                                                                       

                                                                                                Notulis

 

 

 

                                                                                                Etika Wiliharti  

                                                                                               NIP. 19670521 199303 2001

 

 

Comments


Tambah Komentar


Silahkan Login Dulu

Login
Anda Pengunjung ke :

Sidebar Menu