Benny Arnas

Benny Arnas (lahir di LubuklinggauIndonesia8 Mei 1983; umur 37 tahun) adalah penulis 22 buku lintas genre—novel, cerpen, puisi, esai, catatan perjalanan, dan naskah lakon. Baginya, riset yang tuntas adalah jalan pembuka bagi kreativitas yang produktif. Ia menyukai petualangan, bertemu orang baru, procoffeenated, dan mewajibkan dirinya menulis setidaknya satu esai tiap harinya. Meskipun baru menulis pada usia 25 tahun (tahun 2008), Benny berakselerasi lewat cerpen dan esainya yang tersebar di Kompas, Tempo, Republika, Jawa Pos, Media Indonesia, Horison, dll. dalam dua tahun proses kreatifnya. Novelnya Cinta Menggerakkan Segala merupakan versi novel atas film layar lebar 212 The Power of Love. Lewat lembaga kebudayaan yang ia dirikan pada 2012, Benny Arnas menjadi penggerak literasi di Lubuklinggau. Lubuklinggau Writing Festival, Lubuklinggau Short Movie Festival, Bennyinstitute Writing Class, Bennyinstitute Acting Class, Bennyinstitute Goes to School, Penerbitan karya-karya (penulis) lokal, pementasan teater dan pertunjukan kebudayaan, serta Festival Monolog Bennyinstitute adalah kegiatan rutin yang membuat iklim kreatif di Lubuklinggau terus bergeliat. Semua dokumentasi kontribusi kesastraan, kebudayaan, dunia kreatif lainnya dapat diakses di www.bennyinstitute.com atau chanel Youtube-nya Bennyinstitute. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan membawanya dalam perjalanan dan residensi kreatif di Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Australia.

Benny Arnas lahir di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 8 Mei 1983. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Benny mengambil keputusan berani dengan menjadi seorang penulis, sutradara teater, hingga produser pementasan, sebagai jalan hidupnya. Di kampung halamannya, apa yang dilakukan anak pertama kerap dijadikan contoh bagi adik-adiknya. Langkah itu sempat tidak mendapat respons positif keluarga, sebelum ia mengumrohkan kakeknya pada 2009 lewat hadiah lomba menulis yang diadakan Mizan dan Republika. Sebagaimana dirinya yang bergelut dengan dunia kreatif, adik keduanya menempuh jalur musik dan adik ketiganya memilih film sebagai pilihan masa depan. Tak satu pun dari mereka yang mengikuti jalan sang ayah sebagai (pensiunan) PNS. Seiring waktu, keluarganya menerima jalur kreatif yang dipilih anak-anaknya—tentu saja dengan Benny Arnas sebagai pembuka jalannya.

Masa kecil Benny cukup berwarna. Tinggal di lingkungan dengan penduduk yang berasal dari berbagai suku dan agama di bantaran Sungai Kelingi, Benny dan keluarga bisa menjalani kehidupan dengan rukun. Ketika duduk di angku SD, Benny menjadi pemulung demi bisa menyewa lebih banyak buku di kios penyewaan buku di Ulaksurung. Bacaan favorit masa kecil-remajanya adalah komik Petruk-Gareng, seri novel Wiro Sableng, dan seri novel silat karya Asmaraman S. Kho Ping Ho. Menginjak SMA-kuliah, ia menggilai sastra klasiknya Marah Roesli, Mochtar Lubis, Sutan Takdir Ali Syahbana, dll. Ketika remaja ia sempat menuliskan hasil perjalanannya keliling kampung dengan berjalan kaki tiap pulang sekolah hingga menjelang magrib, namun tak pernah ia publikasikan.

Tahun 2008, di tahun awal menulisnya, Benny mendirikan sekaligus menjadi ketua pertama Forum Lingkar Pena (FLP) di Lubuklinggau. Tahun 2009, amanah itu diteruskan Desy Arisandi, seorang guru bahasa Indonesia di pedalaman Musirawas. Tahun 2010 Benny dan Desy memutuskan menyatukan kekuatan mereka dengan memasuki babak baru yang bernama rumahtangga. Sejak 2012 mereka berdua mengelola bennyinstitute, lembaga kebudayaan yang membuka taman bacaan terbuka, kelas menulis dan seni peran gratis, dan rutin menyelengga akan diskusi, lokakarya, dan pertunjukan di Lubuklinggau. Di rumahnya, bersama mesin tik tua, ilustrasi isi dan sampul bukunya yang dibingkia dalam ukuran besar, buku-buku disusun menyerupai menara, menjadi hiasan di atas meja dan lemari, di sudut ruangan, hingga menjadi penyekat ruangan. Hal itu dilakukan, sebab bagi mereka, buku bukan hanya sumber ilmu, tapi juga peranti kenyamanan hidup seseorang. Semakin sering seeorang dijejali (pemandangan) buku, semakin terpantik rasa penasarannya. Kini, ia dan istrinya sedang mngerjakan proyek untuk ketiga putri mereka; menulis-terbitkan buku cerita anak.

 

Karya

  1. 2018 - Catatan perjalanan Bercerita dari Piru
  2. 2018 - Buku puisi Hujan Turun dari Bawah
  3. 2018 - Novel Cinta Menggerakkan Segala
  4. 2017 - Naskah lakon Panca Mukti Setelah Petang
  5. 2017 - Kumcer Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu
  6. 2017 - Novel Curriculum Vitae
  7. 2016 - Novel Kepunan
  8. 2016 - Kumpulan puisi Lidah Mertua
  9. 2016 - The Old Man’s Flower Garde
  10. 2016 - Naskah lakon To Love Dayang Tari
  11. 2016 - Naskah lakon Bila Mencintai Dayang Tari
  12. 2016 - Novel biografi Terbang Perlahan Hingga Seberang
  13. 2015 - Kumcer Eric Stockholm & Perselingkuhan-perselingkuhan yang Lain
  14. 2015 - Novel Tanjung Luka
  15. 2015 - Bunga rampai esai Cinta Paling Setia
  16. 2015 - Buku puisi Terindak
  17. 2014 - Kumcer Cinta Tak Pernah Tua
  18. 2014 - Novel Bersetia
  19. 2014 - Novel biografi Parigan
  20. 2011 - Kumcer Jatuh dari Cinta
  21. 2010 - Kumcer Bulan Celurit Api
  22. 2009 - Kumcer Meminang Fatimah
  23. 2018 - Buku puisi Hujan Turun dari Bawah

Nama Lahir : Benny Arnas
Lahir : Lubuklinggau, Indonesia, 08 May 1983 ( Umur 37 )
Pekerjaan : Penulis, Sutradara, Produser, Novelist
Tahun aktif : 2004-sekarang
Situs web : https://id.wikipedia.org/wiki/Benny_Arnas

Sidebar Menu