Merayu Sukma

Merayu Sukma, nama aslinya adalah Mohamad Sulaiman Hasan, lahir 0 Desember 1914 – meninggal 11 Maret 1951 pada umur 37 tahun, adalah seorang penulis Indonesia, dan banyak menulis drama. Ia dibesarkan di kampung halaman orangtuanya di BanjarmasinKalimantan Selatan. Ia tidak berpendidikan tinggi tetapi berkat semangat belajar yang tinggi dan ketabahan yang luar biasa, ia berhasil menjadi penulis yang cerdas. Ia aktif menerbitkan beberapa majalah umum seperti Pelita Masyarakat meskipun usahanya tidak selalu berhasil baik.

Merayu Sukma banyak menulis karya drama terutama pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Pada masa itu karya-karya drama sarat dengan propaganda pemerintah militer Jepang yang berusaha mengajak masyarakat Indonesia untuk membantu peperangan melawan Amerika dan Inggris dalam Perang Dunia II. Karya sastra dijadikan alat propaganda yang tepat, terutama drama, karena masyarakat dapat langsung menerima pesan-pesan dan mencontoh apa yang seharusnya dilakukan dalam masa perang itu. Para seniman kemudian dihimpun oleh Kantor Dinas Propaganda (Sendenbu) untuk bekerja dalam lapangan kesenian masing-masing untuk memberi semangat kepada rakyat Indonesia. Sejumlah penulis drama, antara lain seperti Usmar IsmailEl HakimArmijn PaneSoetomo Djauhar Arifin, dan Merayu Sukma menyambut dengan semangat program pemerintah tersebut dengan menghasilkan karya drama yang banyak dimainkan oleh grup drama yang juga banyak bermunculan saat itu.

Ia meninggal pada tanggal 11 Maret 1951 pada usia 37 tahun.

Karya

  1. Pandu Pertiwi (1942)
  2. Jurang Meminta Korban
  3. Mariati: Wanita Adjaib
  4. Dalam Gelombang Darah
  5. Gema dari Menara
  6. Jiwa Merdeka
  7. Nyanyian di Penghidupan

Nama Lahir : Mohamad Sulaiman Hasan
Lahir : Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 30 November 1914 ( Umur 105 )
Pekerjaan : penulis
Tahun aktif : 1914-1951
Situs web : https://id.wikipedia.org/wiki/Merayu_Sukma

Sidebar Menu